Re: [HRExcellency_Club] Management By Fear

Dear Pak Eka,

Saya ingin sharing pengalaman … mudah2an bermanfaat.
Di tahun kedua menjelang berakhirnya masa kerja, saya mengalami hal tersebut.
Saat itu "boss" baru saya adalah teman sewaktu sama-sama mengikuti semacam
fit & proper test untuk posisi saya saat itu.
Namun … dengan suratan tangan dan prestasi yang [mungkin] istimewa, beliau
berhasil melewati banyak teman seangkatan …. termasuk saya.

Awalnya saya terkejut menghadapi sikap beliau, dengan beberapa alasan a.l.:
1. Sebagai seorang "teman" … ternyata tidak ada "bekas"nya …. justru komunikasi
jadi macet berat.
2. Selama saya kerja baru pertama kalinya saya berjumpa dengan sikap se-ekstrim itu;
sikap ini berlaku untuk hampir kepada semua karyawan; hanya sedikit sekali yang dapat
"memuaskan" beliau, itupun tidak berlaku untuk jangka waktu yang lama.

Komunikasi antara saya dan beliau boleh dikatakan buntu …. hampir tidak ada
hasil kerja saya yang dapat memuaskan beliau.  Ada saja kekurangannya, dan
itu disampaikan … kadang2 dengan kata2 yang seperti "geledek di siang bolong".

Situasi berakhir setelah ada re-organisasi.   Rencananya, saya akan di-geser ke
posisi yang saya lebih "tidak menguasai"nya.   Tetapi … beruntunglah …. pada
detik-detik terakhir [konon begitulah yang saya dengar] … saya "diselamatkan" oleh
boss yang diatasnya lagi, yang notabene pernah juga menjadi boss saya jauh hari
sebelumnya; dan tentu saja cukup mengenal saya dengan baik.

Dan akhirnya, saya dapat mengakhiri masa kerja saya pada posisi [dalam arti bidang
pekerjaan] yang cukup "sulit cari gantinya", dan merupakan salah core competensi saya
yang paling menyenangkan.  Alhamdulillah. 

Analisa saya :
1. sikap seperti itu didasari oleh kepercayaan diri yang kurang, atas kemampuan
konseptual maupun teknis operasional.
2. besarnya ambisi untuk menggapai posisi yang lebih tinggi dengan cepat
3. lemahnya kemampuan komunikasi interpersonal.
4. dengan menimbulkan "ketakutan" beliau merasa dapat "menciptakan" kepatuhan
dan tentu saja kesuksesan.

Wallahu'alam.

2008/9/4 Eka Wartana <ewartana@trimgairlines.com>



Rekan2 milis,
Kali ini saya ingin share pengalaman melihat dipakainya management by fear dibeberapa perusahaan, department.
Tapi sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Pak Charles Chen atas kata2 positif nya dan kepercayaannya untuk memilih saya sebagai mentor, dalam komentarnya di email tentang Kisah Di Musim Dingin-nya Pak Rudy Cahyadi. Tentu saja saya mau membantu dimana saya bisa dan tanpa pamrih, tentunya. Entah kenapa, selalu ada dorongan didalam diri untuk sharing ilmu, pengalaman, dll kepada orang yang mau maju.
 
Kok saya yakin bahwa rekan2 pernah melihat ataupun mengalami sendiri situasi tempat kerja, kuliah, atau lingkungan dimana ada orang2 yang memakai rasa takut (fear) untuk mencapai tujuannya. Ada boss yang kerjanya menekan bawahan terus supaya dia punya wibawa, selain itu juga supaya tujuan perusahaan (terutama pribadinya) tercapai.
 
Ada beberapa hal yang saya pikir melatarbelakangi implementasi rasa takut itu, diantaranya:
1. Cara itu dipakai dalam situasi krisis sehingga harus memakai cara keras. Lebih banyak memakai "stick" atau hukuman daripada "carrot" atau insentif. Tidak ada waktu lagi untuk training, coaching dsb.
2. Pribadi ybs mempunyai masalah dimana sikapnya terhadap bawahan merupakan kompensasi atas kekurangannya ditempat, atau bidang lain. Ada orang yang saya lihat sangat keras ditempat kerja….ternyata dirumah dia adalah orang adalah yang "terjajah". 
3. Ego-nya sangat tinggi sehingga tidak mau tahu dengan orang lain, tidak mau tahu dengan pikiran dan perasaan orang lain. Kemarahan menjadi senjatanya agar bawahannya takut sehingga mau melakukan apa saja yang diminta olehnya.
4. Memang bawaannya gampang marah, emosinya kurang stabil.
 
Ditempat kerja lama saya, ada satu department yang bossnya seperti itu. Apa yang terjadi? Saat dia ada semuanya (pura2) kerja, cari kesibukan sana sini. Tapi saat si boss tidak ada, semuanya pada santai, pulang cepat/ masuk terlambat, ngobrol kiri kanan, dst.
Ibarat kalimat "Saat kucing pergi, tikus menari"…….
Dengan cara itu dampak yang terlihat antara lain:
1. Bawahan cuma mengerjakan pekerjaan yang bisa menyenangkan si boss (ABS-asal bapak senang…..sayang gak ada AIS ya, asal ibu senang…). Banyak hal2 lainnya yang bisa berdampak besar terhadap bisnis tidak diperhatikan. Akibatnya muncullah kasus "fire fighting", pemecahan masalah tanpa mencari dan menyelesaikan inti penyebabnya.(root cause-nya), sehingga terjadi berulang ulang, yang sangat boros energi, waktu dan biaya. Rekan2 yang pernah membaca 6Sigma, tentunya sangat familiar dengan hal ini.  
Contohnya: Didalam sebuah gudang, sering sekali orang terjatuh karena lantainya licin akibat cairan yang tumpah. Langkah yang diambil: menyediakan lebih banyak obat merah dan kapas, bahkan disediakan perawat khusus…….bukannya yang dicegah itu tertumpahnya cairan penyebab lantai licin. Akibatnya ya tetap banyak orang yang berjatuhan…..Satu langkah yang ironis ya…
Contoh lain: Jalan macet karena ada truk parkir dipinggir jalan. Tindakan yang diambil: jumlah polisi ditambah untuk mengatur lalulintas, padahal seharusnya truk parkir itu yang disingkirkan. (contoh ini memang dibesar2kan supaya lebih jelas maknanya).
 
2. Inisiatif, inovatifitas dan kreatifitas jadi mandek. Karyawan takut salah, nanti dibilang sok tahu. Sayang sekali 'kan padahal mungkin banyak sekali ide2 brilian yang ada.
3. Karyawan jadinya cuma melakukan perkerjaannya, asal secukupnya saja. "Yang penting dapat gaji tiap bulan". Sikap masa bodoh tumbuh dengan suburnya. Motivasi hilang dan kemampuan karyawan mandek juga.
4. Prestasi kerja yang bagus mungkin dicapai tapi cuma sementara saja. Hasilnya lebih ke jangka pendek daripada jangka panjang.
 
Didalam kasus diatas, ego seseorang bisa men-drive managerial style nya. Rasa takut lebih didahulukan daripada pencapaian tujuan. Ini bisa mengarah ke penilaian yang subjektif dimana yang penurut akan mendapat nilai bagus, bahkan lebih bagus dari yang lain yang lebih suka ber-argumentasi (padahal itu demi kepentingan perusahaan) dan dengan hasil kerja yang lebih baik.
Ada kejadian dimana keputusan drastis diambil saat dia marah. Ada seorang karyawan yang mendapat fasilitas mobil, suatu hari datang terlambat. Boss sedang perlu dia tapi belum datang. Tanpa bertanya sebab keterlambatannya langsung dibuat keputusan drastis: semua fasilitas mobil untuk semua orang dibatalkan. Ibarat adanya orang yang tenggelam dikolam renang, kolam renangnya langsung ditutup….
 
Rasa takut dianggap lebih penting daripada respek. Dia tidak tahu bahwa dengan menerapkan cara coaching, counselling, directing akan lebih efektif+efisien, bahwa dengan treatment yang fair, keputusan yang bijaksana, akan muncul rasa respek yang selanjutnya melahirkan rasa tanggung jawab.
Akhir kata:
Seberapa tinggi sih kematangan emosi pimpinan yang menerapkan management by fear seperti itu?
Adakah kaitannya antara penerap management by fear dengan "post power syndrome"? (banyak orang yang merasa sangat terpukul saat kehilangan kekuasaannya, misalnya orang yang di PHK dari posisinya dengan otoritas tinggi). 
 
Wah, terlalu serius ya pembicaraan ini. Itu semua bukan berdasarkan teori2 dibuku, tapi cuma pengalaman sebagai seorang praktisi. 
Sharing dari rekan2 milis yang lain tentang pengalamannya dengan boss seperti diatas, tentunya akan bermanfaat buat kita semua.  
Dilain waktu mungkin ada gunanya dibahas "how to manage your boss" (apa mungkin? tentu…..)
Best regards,
Eka Wartana. 

__._,_.___


       
HR Excellency
Jl.Tanah Abang V No.37 Kompleks Ruko Tanah Abang Jakarta Pusat 10160
Telepon (021) 3518505 atau (021) 3862521Fax (021) 3862546
Website: http://www.hrexcellency.com Email : hrexcel@dnet.net.id

Recent Activity

Visit Your Group

Yahoo! Avatars

Express Yourself

Get animated.

Change your style

Yahoo! Groups

Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.

.


__,_._,___

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: